Selasa, 10 Mei 2011

Ratap Gadis Suayan

cerpen: Damhuri Muhammad 
Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan
kecantikan masa belia. Ia pasti datang meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya.
Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan entak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya.
Ada dua penyebab yang membuat orang-orang gampang mengingat dusun Suayan. Sebab pertama, perempuan paruh baya bernama Raisya, tukang ratap itu. Namanya masyhur berkat kepiawaian meratap. Kerap ia dijemput-antar oleh karib kerabat yang sedang tertimpa musibah kematian. Mereka datang dari dusun-dusun tak terduga, guna memohon kematian itu diratapi. Bagi mereka, kematian kurang khidmat tanpa ratapan Raisya. Sebab kedua, Suayan gampang dikenang karena dusun itu pabrik jodoh. Bila tuan sedang bimbang untuk menjatuhkan pilihan perihal gadis mana yang bakal tuan persunting, barangkali tak ada salahnya tuan berkunjung ke Suayan. Bisa jadi tuan bakal abai dengan pilihan-pilihan tuan sebelumnya. Sebab, di dusun Suayan, meminang perempuan dalam keadaan mata terpicing pun dijamin tidak salah pilih. Sembilan dari sepuluh laki-laki pencari jodoh yang datang ke Suayan berhasil menggondol pasangan. Kalaupun ada yang gagal, sebabnya pasti bukan pada pihak perempuan, tapi karena pihak laki-laki tidak sanggup membayar uang pinangan yang terbilang mahal. Harga pinangan termurah untuk gadis Suayan cukup untuk menebus empat bidang ladang yang tergadai. Konon, hidup orang-orang Suayan terselamatkan oleh pinangan demi pinangan. Memiliki anak perempuan di dusun Suayan seperti menyimpan celengan gemuk yang sewaktu-waktu bisa dibanting-empaskan, tentu setelah pinangan datang. Dan, celakalah setiap keluarga yang tidak punya anak perempuan. Mereka terpuruk di kerak kemelaratan.
Sejak dulu kecantikan gadis-gadis Suayan belum terkalahkan oleh perempuan-perempuan di dusun mana pun. Dusun Suayan memang bukan daerah subur penghasil Damar atau Gambir sebagaimana dusun-dusun lain. Tanahnya gersang, padi tak menjadi, hampa sebelum berbuah. Tapi Tuhan memberi anugerah dari pintu yang tak diduga-duga. Bayi-bayi perempuan selalu terlahir dengan kecantikan yang menakjubkan. Mereka tumbuh dan mendewasa menjadi gadis-gadis yang memiliki bibir pipih seperti bibir Raisya, pipi merah merona, kulit mulus seperti kulit orang Jepang, hidung mancung seperti hidung orang Arab. Postur tubuh tinggi, langsing, sintal seperti bintang film. Bila bintang film yang kerap mereka lihat di layar tivi itu tampak anggun dan molek karena olesan bedak yang berlapis tujuh, maka kecantikan gadis-gadis Suayan mukjizat yang jatuh dari langit, bawaan sejak dari rahim. Tanpa olesan bedak dan lipstik pun wajah mereka sudah memancarkan aura kecantikan yang mencengangkan. Siapa tak tergiur? Dusun Suayan seamsal hamparan ladang luas tempat bersitumbuhnya bunga-bunga anggun segala rupa, tiada pernah langkas, meski kumbang-kumbang datang silih berganti.
“Bagaimana Raisya? Sekarang atau tidak sama sekali!” desak Datuk Pucuk, penghulu suku Pilawas, suku Raisya.
Seorang lelaki datang hendak meminang Laila, anak gadis Raisya. Satu-satunya.
“Tidak! Biarkan dia melanjutkan sekolah,” sangkal Raisya. Tegas.
“Sekolah? Kau akan menguliahkan Laila dengan upah meratap? Berapa banyak kematian harus kau tunggu?”
“Terimalah pinangan itu! Hidupnya bakal selamat dengan lelaki itu. Juga hidupmu. Tak perlu kau menunggu-nunggu kabar kematian lagi.”
“Tak ada kematian pun aku tetap meratap!”
Memandang raut wajah Laila serasa menatap Raisya. Ada jernih mata Raisya di jernih matanya. Ada pipih bibir Raisya di pipih bibirnya. Ada alis Raisya di alisnya (tebal, hitam, nyaris bertaut). Tapi, bakal adakah malang nasib Raisya di malang nasibnya? Raisya tidak mau itu terjadi. Laila tak boleh kawin muda. Jangan sampai ia terbujuk godaan para pencari jodoh yang berhamburan ke dusun ini, seperti berhamburannya orang-orang selepas mendengar kabar kematian.
Raisya tidak rela Laila hanya menjadi sebatang tebu yang disesap rasa manisnya, setelah jadi ampas, dicampakkan begitu saja, seperti yang dialaminya di masa lalu. Waktu itu Raisya baru lulus tsanawiyah, Nurman meminangnya. Mentah-mentah ia menolak pinangan ganjil itu. Tapi siapa berani melawan kehendak Datuk Pucuk? Satu-satunya keluarga Raisya yang tersisa. Dengan berat hati ia mengubur segala impian. Rela ia diperistri Nurman, lelaki yang sebenarnya lebih patut menjadi ayahnya. Raisya daun muda ketiga yang takluk di tangan tauke Damar itu. Dari gunjing yang berserak di dusun Suayan, ada kabar tak sedap, dengan perjodohan itu Datuk Pucuk sesungguhnya tidak hendak menyelamatkan hidup Raisya, kemenakannya itu, tapi hendak menyelamatkan hidup anak-bininya sendiri. Belakangan Raisya tahu, adik kandung mendiang ibunya itu sedang terlilit utang, dan ia membayarnya dengan menyerahkan Raisya pada Nurman.
Hanya berselang beberapa bulan setelah kelahiran Laila, Nurman lagi-lagi memetik daun muda. Dipersuntingnya Bunaiya, sahabat karib Raisya sewaktu bersekolah dulu. Tiada alasan yang absah saat Nurman meninggalkan Raisya. Barangkali hanya karena lelaki itu sudah hilang gairah sebab tubuh Raisya tak montok lagi. Ia sibuk mengurus anak, lupa merawat tubuhnya sendiri. Kabar terakhir yang didengar Raisya, suaminya pergi karena memang begitulah perjanjiannya dengan Datuk Pucuk. Ia sanggup membayar pinangan seharga dua ekor sapi jantan, hanya untuk mencicip ranum tubuh Raisya. Utang-utang Datuk Pucuk lunas, Raisya punya anak, Nurman pergi, dan kawin lagi. Sejak itu Raisya hidup sendiri, menghidupi anak tanpa suami. Laila yatim meski ayahnya belum mati.
Semasa bersekolah dulu, Raisya bintang kasidah. Napasnya panjang, suaranya tinggi, nyaring. Bila tampil di panggung, lengking suaranya membuat para penonton melonjak-lonjak girang, lebih-lebih kalau ia menyanyikan ya rabbi barik. Tartilnya benar-benar seperti tartil orang Arab, cengkok suaranya membuat penonton terenyak dan berdecak kagum. Tapi sejak menjadi istri orang, nama Raisya seolah menguap, tak pernah lagi ia tampil di atas panggung, kalah bersaing dengan biduan-biduan muda yang suara dan penampilan mereka lebih cemerlang. Raisya kehilangan banyak hal, empat bidang ladang peninggalan orangtuanya dikuasai Datuk Pucuk, kehilangan suami, dan tentu saja; kehilangan ranum tubuhnya.
Mak Sima, sesepuh suku Pilawas merasa terpanggil untuk meringankan beban Raisya. Ia mewariskan kepandaian meratap pada janda muda itu. Setidaknya ia bisa membesarkan Laila dari upah meratap.
“Kau sudah punya syarat-rukunnya, Raisya. Akan lekas mahir,” bujuk Mak Sima waktu itu.
“Aku sudah tua. Kau penggantiku! Jadilah tukang ratap yang bisa menyelami lubuk kepiluan lebih dalam dari selaman keluarga mendiang.”
“Bukankah kau sudah terlatih menanak risau?”
Setelah berhari-hari terkapar di tempat tidur akhirnya lelaki itu meninggal juga. Tak ada yang tahu penyakit apa yang dideritanya. Belakangan ini ia kerap batuk-batuk kering. Tiga dari lima kali batuknya disertai muntah. Sebesar jeruk purut gumpalan darah keluar dari mulutnya. Susah ia tidur karena batuk-batuk keras itu tak kunjung reda, hingga tubuhnya terkulai tak bertenaga, kencing dan berak dipacakkannya saja di kasur. Bunaiya, istrinya, sudah berkali-kali membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit, tapi ia menolak. Ini penyakit tua, tak akan lama, rintihnya.
Kini jenazahnya sudah dimandikan, sudah pula diyasinkan, dishalatkan, tinggal menunggu waktu sebelum diusung ke pekuburan. Tapi sebagaimana kebiasaan orang-orang dusun Suayan, kurang sempurna upacara kematian jika belum diratapi. Maka, jenazahnya masih dibaringkan di ruang tengah rumah itu, menunggu kedatangan Raisya, si tukang ratap.
“Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur-umur?” tanya Bunaiya.
“Tak usah cemaskan soal itu. Bila kematian ini tak diratapi, apa kata orang nanti?” bujuk Wan Uncu, kakak laki-laki Bunaiya.
“Raisya harus dijemput! Ia satu-satunya tukang ratap di dusun ini. “
Sejatinya Raisya tidak pernah berdoa memohon kematian meski hidupnya sangat bergantung pada kematian. Untunglah hari ini datang juga kabar buruk itu. Ia akan meratap sebagaimana lazimnya, beroleh upah, lalu pulang. Meski yang akan diratapinya mendiang Nurman, bekas suaminya, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Ada tak ada kematian, Raisya tetap meratap. Itu karena ulah Nurman!
Di samping pembaringan mendiang, Raisya meratap sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya, sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu apakah Raisya benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau dalam ratap itu ia justru menyimpan amarah yang tak terkata.
Jakarta, 2008

Minggu, 08 Mei 2011

Perempuan Kafiyah

saya menyukai tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma, maka dari itu saya banyak menaru tulisan-tulisannya disisni. semoga bermanfaat..... yuks, ke Itali bareng saya

Seorang Wanita dengan Parfum Obsession

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

                                                                                                                 
“CERITAKANLAH padaku tentang seorang wanita,” Katanya padaku
Maka, kuceritakan padanya tentang seorang wanita dengan parfum Obsession.
Sahibul Hikayat, Calvin Klein jatuh cinta sampai termehek-mehek kepada seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya. Untuk menuntaskan perasaanya, diciptakanlah olehnya parfum bernama Obsession. Maksudnya, barangkali, kalau ia tak bisa mengawini wanita itu, lebih baik mati. Wanita itu menjadi obsesi baginya.
Dengan latar belakang pengetahuan itu, seorang wanita selalu berparfum obsession jika sedang jatuh cinta. Ia sengaja mengoleskan obsession, yang aromanya menyergap dan menyerang, karena ia berpendapat seperti ini.
“Kalau aku jatuh cinta pada seorang lelaki, siapapun dia, aku akan berusaha mendapatkanya, dengan segala cara. Aku buka seorang wanita yang menunggu siapapun yang melamarku. Aku tidak merasa bersalah untuk menyerbu lelaki yang kucintai, apapun kata orang. Aku akan menyatakan dengan segala cara, bahwa aku mencintai dan menghendakinya – kalau tidak suka caraku, bilang saja, aku akan menjauh. Sampai ada lelaki lain yang menarik hatiku.”
Mengahadapi wanita seperti itu, wel, well, well, bisa senang, bisa juga merepotkan. Senang karena ia seperti selalu ada setiap kali kita butuhkan. Repot, karena ia masih ada meskipun sudah tidak kita butuhkan. Padahal kita biasanya tidak tega mengatakan, “Aku tidak butuh kamu lagi.” Kita biasanya tidak berkata apa-apa, tapi menunjukkannya. Berharap sang wanita bisa mengerti sendiri. Namun, meski mengerti, seorang wanita tak selalu mau memahami. Dalam hal wanita berparfum obsession ini, ia bukan hanya bisa pura-pura tidak mengerti. Ia menolak untuk ditolak, kemudian ia menyerang. Busyet.
Wanita, perempuan, betina – ketiga istilah ini sebenarnya menyatu dalam satu makhluk: ia bisa mengasihi seperti seorang ibu, mesra bagaikan kekasih impian, dan begitu jalang ibarat pelacur yang paling menantang.
Aku bertemu dengan wanita berparfum obsession ini lewat telepon. Rupa-rupanya teleponnya nyasar.
“Jadi ini bukan nomor heweshewesheweshewes?
“Bukan, ini nomor hawushawushawushawus.
Suaranya. Suaranya itu. Wel, well, well. Suara yang sangat erotik.
Akulah yang lantas bernafsu.
“Ini Siapa?”
Ia sebutkah sebuah nama.
“Sebenarnay mau mencari siapa ?”
Ia sebutkan sebuah nama lagi.
“Kenapa tidak mencari saya saja?”
Ia bertanya. Kinai ia bertanya.
“Kamu siapa?”
Aku sebutkan sebuah nama.
“Ini kantor apa?”
Aku sebutkan sebuah nama lain.
“Kukira kita bisa ngobrol,” katanya pula.

Lantas ketika aku datang ke kafe yang baru dua hari dibuka itu, kulihat seorang wanita berambut medusa, dewi Yunani yang rambutnya terdiri dari sejumlah ular. Kira-kira begitulah. Roknya mini. Sepatunya seperti sepatu tentara. Kulitnya putih. Tinggi. Mengenakan kaos ketat, sehingga dadanya yang tipis tetap saja menonjol.
Ia tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Kecantikan – bukankah ini sesuatu yang sulit? Toh aku harus mengakui, ketika ia mulai bicara, suaranya adalah bagian dari keindahan. Bukan. Suaranya bukan seuara yang merdu. Suaranya serak. Seperti ada sekat di kerongkonganya. Tapi, aneh, aku mersakan sebagai sesuatu yang indah. Percayalah, ini bukan karena aku menyukai Louis Amstrong.
Sambil mengobrol, ia suka melempar makanan ke atas kepalanya, dan ular-ular yang bergeliatan di kepalanya itu melahapnya. Mula-mula aku ngeri. Rasanya seperti mimpi buruk. Namun ini nyata. Kuhirup bau parfumnya.
“Apa parfummu?”
“Obsession.”
Aku mencatatnya baik-baik dalam ingatanku, karena aku selalu berusaha mengingat nama parfum yang keharumannya mengesankan. Baru belakangan aku menyadari seni bau ini, dan betapa kita harusa berterima kasih kepada para pencipta parfum. Dunia barangkali tidak akan menjadi lebih buruk tanpa parfum, tapi aku tidak bisa membayangkan seandainya parfum itu tidak pernah diadakan. Parfum bisa mewakili suatu citra kewanitaan, keanggunan – bahkan jika parfum itu dibuat untuk pria. Tapi sekali lagi percayalah, aku sendiri belum tega mengenakan parfum apapun.
“Bau ketiakmu enak,” ujar wanita itu, pada suatu ruang dan waktu yang lain tentu saja. Ya, tapi ularnmya itu Nek.
Sebenarnya rambut wanita ituhanya menjadi ular pada malam hari. Ketika matahri terbit, ular-ular itu raib, dan rambut wanita itu sungguh-sungguh bagus. Bila bangun tidur, rambutnya yang hitam kelam dan bergelombang sudah menggosok-ngosok hidungku. Seringkali aku bingung, mana kiranya yang lebih menraik hatiku: rambut ulanya, suaranya, atau parfumnya. Kupikir tiga-tiganya salah. Barangkali aku tertarik akrena wanita ini berani menyerang. Agresif dan tidak malu-malu.
“Kalu tidak suka padaku, katakanlah sekarang, aku tidak akan menghubungimu lagi.”
Tapi sebuah perpisahan tak harus dihubungkan dengan suka atau tidak suka.
Pertemuan, perpisahan, astaga, betapa semua ini menjadi bagian kehidupan. Kupikir aku selalu siap berpisah dengan siapapun wanita yang kutemui. Namun ketika saat perisahan itu tiba., rasanya ku tidak pernah siap.
“Kita harus berpisah, kita tidak punya masa depan,” begitulah kalimat itu selalu.
“Apakah suatu hubungan tidak ada artinya, meski tidak akan menjadi apa-apa?”
“Kamu sangat berarti bagiku, tapi untuk apa semua ini, untuk apa ?”
Aku sudah capek denga perdebatan semacam itu. Aku ingin babak-babak kehidupan semacam ituberlalu dengan cepat. Kenyataanya, babak-babak semacam itu selalu datang lagi, nyaris seperti adegan ulangan. Toh, begitulah, perpisahan tidak pernah menjadi mudah. Kupandang ular-ular yang bergeliatan di kepalanya. Aku akan kehilangan ular-ular itu.
“Apakah wanita seperti itu ada?” wanita itu memotong ceritaku.
“Wanita berkepala ular maksudnya?”
“Bukan.”
“Wanita yang menyerang?”
“Bukan.”
“Apa dong?”
“Wanita yang tidak mengharapkan apa-apa.”
Terdengar piano memainkan At a Perfume Counter. Aku menghirup udara. Rasanya bau parfum wanita ini belum kukenal.
“Kukira kamu lebih tahu”
“Tidak, aku tidak tahu.”
“Aku juga tidak.”
Wanita itu tersenyum.
“Kuteruskan ceritanya?”
“Ya,ya, sorry ku potong.”
Hubungan manusia seperti kontrak. Cepat atau lambat hubunga itu akan berakhir dengan perpisahan. Kami bertemu lewat telepon, dan kami juga bepisah lewat telepon.
“Aku tidak bisa lagi menemui kamu.”
“Kenapa?”
“Sudahlah, hubungan kita sudah berakhir.”
“Kenapa harus begitu?  Kenapa harus berakhir ?”
“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa lagi.”
“Jelaskan dong – aku kan tidak mengharapkan apa-apa dari kamu. Aku tidak pernah minta kamu mengawini aku.”
“Aku tidak mau bertengkar.”
“Aku tidak mau berpisah.”
“Aku ingin berpisah.”
“Aaaahhhh!”
Astaga, sulit sekali menghadapi wanita yang menangis. Padahal dulu dia begitu sombong.
“Aku senang dengan hidupkum,” katanya “Aku senang denga piliha-pilahn yang kulakukan, dan menerima kegagalan dengan sportif. Aku punya banyak pacar, mereka semua memberikan kebahagiaan yang berbeda-beda.”
Untunglah. Untunglah aku tidak pernah mencintainya – dan tidak mungkin: karena hatiku sudah kuberikan untuk seorang wanita berparfum True Love.
Aku tidak pernah bertemu dia lagi semenjak percakapan yang mengakhiri segala hubungan itu. Aku sering merasa aneh dengan kenyataan, betapa kita bisa begitu dekat dengan seseorang, namun bila tiba saatnya berpisah, kita bisa saja tidak pernah berjumpa lagi dengan orang itu, barangkali sampai mati.
“Aku sudah bercerita tentang seorang wanita,” kataku, “Kini ceritakanlah padaku tentang dirimu.”
“Boleh, tapi aku mau minta tambah minuman, dan mau minta lagu. Kamu amu lagu apa?”
Wanita itu memsan Tequila. Kulihat penyanyi wanita itu, ia menyanyi sampil main piano di sudut yang remang. Aku merasa ingat sesuatu, tapi lupa-lupa ingat. Apakah sejarah memang ahrus tergantung pada kenangan?
“Ayo lagu apa? Biar kutulis.”
Misty.
*) Dari Novel “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 199

Rasa Apa Yang Terselip Di Sana

rasa apa yang terselip disana?
angin datang menggetarkan permukaan danau
puluhan helai daun melayang terapung
kita sama-sama tersiksa dengan peristiwa ini
siapa menyelipkan aku disana?
ada yang berteriak
walaupun angin telah berhenti
tolong! kudengar teriakan itu sayup-sayup
di ujung yang lain dari bumi dan angin
kau mencariku di tiap tiupan
seakan kau dengar
aku berteriak-teriak memanggilmu
dari tiap celah angin

yogya 1976

Suara-Suara

Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan.
Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Seakarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa.
Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan.
Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa inggris. Tapi, aku tahu juga apa yang kucari.
Mereka mencari manajer pemasaran. Meraka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nahkoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadiaan menarik. Tak ada satupun dari lowongan-lowongan itu yang membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib akan membaik.
Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar.
Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas, kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi.
Sayup-sayup suara air dari keran terdengar mengucur. Lantas, terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku.
Ketika aku bangun lagi, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam.
Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mecoba melupakan segala peristiwa.
Tubuhku tersa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap.
“Rasanya sedih sekali.”
“Kenapa?”
“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”
“Mesti ada sebabnya, dong.”
“Aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”
“kamu, kenapa sih, bilang dong, cerita ….”
Aku menyanyi-nyanyi agar orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar  suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di apocalypse.
Look at me, I’m as helpless as a kitten up tree. [4]


———————–
[4] Misty adalah lagu wajib di kafe. Dibuat oleh erol graner(1923-1977), seorang pianis jazz yang kemudian menjadi composer, pada tahun 1950. inspirasi lagu ini muncul saat garner dalam penerbangan San fransisco – Denver, melihat pelangi dari jendala pesawat yang buram oleh embun. Lagi itu menjadi sangat popular, dan merupakan lagu yang paling banyak direkam selama dua dekade setelah lagu tercipta.

Bibir

Ia memaki-maki. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan-santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan meraka tertawa banyak-banyak.
Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki dengan bebas. Dan bar ini sebetulnya tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah panti pijat di lantai atas. Para pemijat yang tidak selalu cantik, dan tidak selalu bias memijat, menunggu pedagang-pedagang itu untuk adegan yang tidak selalu mesra. Pedagang-pedagang datang dan tanpa basa-basi langsung menerkam pemijat-pemijat.
Setelah selesai mereka akan turun dan minum-minum sampai mabuk. Sambil mabuk mereka akan bercakap-cakap dengan suara keras dan tertawa-tawa dengan suara yang juga keras. Mendekati tengah malam meraka sudah mabuk berat dan bisa memaki-maki tanpa rasa risi. Wanita-wanita yang menemani tamu duduk dan bercakap-cakap juga ikut tertawa keras dan memaki-maki keras. Mereka sering tertawa keras-keras karena gurauan mesum yang diucapkan keras-keras. Maka, semua orang bicara mesum dengan keras-keras.
Malam berikutnya penyanyi itu lebih ramah.
“Minta Martini[2], jangan salah lagi ya?”
Aku tersenyum. Kubuat campuran yang istimewa. Dan penyanyi itu tersenyum.
“Anda cantik sekali kalau memagang gelas. Dan alangkah cantiknya kalau memandangi cap bibir pada gelas.”
Mata penyanyi itu tampak cerah. Aku ingin sekali membuatnya tetap duduk. Namun, MC memanggilnya ke panggung. Ia meletakkan gelas. Ia beranjak. Dan ia segera ditelan tugasnya sehari-hari. Di antara asap dan riuh obrolan, aku mendengar ia menyanyi.
Do you know where you’re going to
Do you think the things that life is showing you
Where are you going to, do you know?  [3]
Aku menunggu kalau ia akan balik lagi dan duduk sambil bercakap-cakap di hadapanku. Tapi, ia tak pernah kembali, meskipun minumannya belum habis. Selesai menyanyi ada tamu mengundangnya duduk. Setelah bar tutup lewat tengah malam, ia pulang bersama tamu itu.
Sampai di tempat indekosan, aku tak bisa tidur. Bibirnya terbayang-bayang selalu. Bibir yang bergerak-gerak ketika bercakap. Bibir yang bergerak-gerak di muka mikrofon ketika menyanyi. Bibir  yang merah dan berkilat-kilat. Bibir yang melengkung indah dan sangat jelas gurat-guratnya. Bibir yang mendekati bibir gelas. Bibir yang basah dan makin basah oleh minuman.
Ketika tertidur aku bermimpi tentang bibir itu.


————————–
[2] Martini: mungkin cocktail(campuran) yang paling terkenal dengan ribuan variasi, tergantung dari perbandingan takaran antara gin(jenewer) dan vermouth(air anggur). Setidaknya ada tiga variasi standar. Sweet martini(gin, sweet vermouth), dry martini(gin, dry vermouth), medium martini(gin, dry vermouth, sweet vermouth).
[3] Dari Theme from Mahogany, Diana Ross, 1976. disebut juga Do you Know where You’re going to? Ditulis oleh Michael Masser dan Gerry Goffin. Lagu itu menjadi bagian dari soundtrack film mahogany (Berry Jordi Jr, 1975), film kedua yang dibintangi Diana Ross. Lagu ini menjadi nominee untuk Best Song dalam perebutan Academy Award(Oscar).

Lipstik

Seno Gumira Ajidarma

Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.
Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota. Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya, mengembara.
Maka, aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu.  Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi supir mikrolet. Pernah menjadi portir, tukang sobek karcis bioskop. Bahkan, menjadi penjaga keamanan sebuah gedung.
Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya, aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih.  Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalu lintas misalnya, yang sibuk meniup peluit dibawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar.
Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi supir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi, aku tak pernah berterus terang.  Aku tahu, hampir semua supir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup.
Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter kemana-mana. Kalau film sudah main dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap.  Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap diantara bangku-bangku yang kosong. Tapi, rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersikap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatanya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong dimana kami saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan.
Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta.
Ia penyanyi baru di bar apocalypse ini. Ia datang dari monte carlo, bar sebelah.  Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Bos untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin ia akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya yang bagus. Atau caranya membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang mebuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyianya, sampai bertahun-tahun kemudian.
The falling leaves
drift by the window[1]
Aku tergetar  dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi, aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meskipun aku tak pernah berbicara kepadanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meskipun kami sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjannya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akn merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas.
Aku mencintainya dengan diam-diam, meskipun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku merasa harus tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya.
Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jatuh dari kebisingan band yang mengentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Tampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun digelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun, puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas.

———————-
[1] Lagu The Autumn Leaves menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Nat King Cole. Gubahan Joseph Kosma itu liriknya tertulis dalam dua versi, yang bahasa inggris oleh Johnny Mercer, dan yang bahasa perancis oleh Jacques Prevert. Catatan produksi: Enoch Et Cie / Horley Music Co. USA/ASCAP
Syair lengkap:
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon Ill hear old winters song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall