Minggu, 08 Mei 2011

Rasa Apa Yang Terselip Di Sana

rasa apa yang terselip disana?
angin datang menggetarkan permukaan danau
puluhan helai daun melayang terapung
kita sama-sama tersiksa dengan peristiwa ini
siapa menyelipkan aku disana?
ada yang berteriak
walaupun angin telah berhenti
tolong! kudengar teriakan itu sayup-sayup
di ujung yang lain dari bumi dan angin
kau mencariku di tiap tiupan
seakan kau dengar
aku berteriak-teriak memanggilmu
dari tiap celah angin

yogya 1976

Suara-Suara

Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan.
Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Seakarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa.
Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan.
Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa inggris. Tapi, aku tahu juga apa yang kucari.
Mereka mencari manajer pemasaran. Meraka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nahkoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadiaan menarik. Tak ada satupun dari lowongan-lowongan itu yang membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib akan membaik.
Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar.
Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas, kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi.
Sayup-sayup suara air dari keran terdengar mengucur. Lantas, terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku.
Ketika aku bangun lagi, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam.
Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mecoba melupakan segala peristiwa.
Tubuhku tersa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap.
“Rasanya sedih sekali.”
“Kenapa?”
“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”
“Mesti ada sebabnya, dong.”
“Aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”
“kamu, kenapa sih, bilang dong, cerita ….”
Aku menyanyi-nyanyi agar orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar  suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di apocalypse.
Look at me, I’m as helpless as a kitten up tree. [4]


———————–
[4] Misty adalah lagu wajib di kafe. Dibuat oleh erol graner(1923-1977), seorang pianis jazz yang kemudian menjadi composer, pada tahun 1950. inspirasi lagu ini muncul saat garner dalam penerbangan San fransisco – Denver, melihat pelangi dari jendala pesawat yang buram oleh embun. Lagi itu menjadi sangat popular, dan merupakan lagu yang paling banyak direkam selama dua dekade setelah lagu tercipta.

Bibir

Ia memaki-maki. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan-santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan meraka tertawa banyak-banyak.
Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki dengan bebas. Dan bar ini sebetulnya tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah panti pijat di lantai atas. Para pemijat yang tidak selalu cantik, dan tidak selalu bias memijat, menunggu pedagang-pedagang itu untuk adegan yang tidak selalu mesra. Pedagang-pedagang datang dan tanpa basa-basi langsung menerkam pemijat-pemijat.
Setelah selesai mereka akan turun dan minum-minum sampai mabuk. Sambil mabuk mereka akan bercakap-cakap dengan suara keras dan tertawa-tawa dengan suara yang juga keras. Mendekati tengah malam meraka sudah mabuk berat dan bisa memaki-maki tanpa rasa risi. Wanita-wanita yang menemani tamu duduk dan bercakap-cakap juga ikut tertawa keras dan memaki-maki keras. Mereka sering tertawa keras-keras karena gurauan mesum yang diucapkan keras-keras. Maka, semua orang bicara mesum dengan keras-keras.
Malam berikutnya penyanyi itu lebih ramah.
“Minta Martini[2], jangan salah lagi ya?”
Aku tersenyum. Kubuat campuran yang istimewa. Dan penyanyi itu tersenyum.
“Anda cantik sekali kalau memagang gelas. Dan alangkah cantiknya kalau memandangi cap bibir pada gelas.”
Mata penyanyi itu tampak cerah. Aku ingin sekali membuatnya tetap duduk. Namun, MC memanggilnya ke panggung. Ia meletakkan gelas. Ia beranjak. Dan ia segera ditelan tugasnya sehari-hari. Di antara asap dan riuh obrolan, aku mendengar ia menyanyi.
Do you know where you’re going to
Do you think the things that life is showing you
Where are you going to, do you know?  [3]
Aku menunggu kalau ia akan balik lagi dan duduk sambil bercakap-cakap di hadapanku. Tapi, ia tak pernah kembali, meskipun minumannya belum habis. Selesai menyanyi ada tamu mengundangnya duduk. Setelah bar tutup lewat tengah malam, ia pulang bersama tamu itu.
Sampai di tempat indekosan, aku tak bisa tidur. Bibirnya terbayang-bayang selalu. Bibir yang bergerak-gerak ketika bercakap. Bibir yang bergerak-gerak di muka mikrofon ketika menyanyi. Bibir  yang merah dan berkilat-kilat. Bibir yang melengkung indah dan sangat jelas gurat-guratnya. Bibir yang mendekati bibir gelas. Bibir yang basah dan makin basah oleh minuman.
Ketika tertidur aku bermimpi tentang bibir itu.


————————–
[2] Martini: mungkin cocktail(campuran) yang paling terkenal dengan ribuan variasi, tergantung dari perbandingan takaran antara gin(jenewer) dan vermouth(air anggur). Setidaknya ada tiga variasi standar. Sweet martini(gin, sweet vermouth), dry martini(gin, dry vermouth), medium martini(gin, dry vermouth, sweet vermouth).
[3] Dari Theme from Mahogany, Diana Ross, 1976. disebut juga Do you Know where You’re going to? Ditulis oleh Michael Masser dan Gerry Goffin. Lagu itu menjadi bagian dari soundtrack film mahogany (Berry Jordi Jr, 1975), film kedua yang dibintangi Diana Ross. Lagu ini menjadi nominee untuk Best Song dalam perebutan Academy Award(Oscar).

Lipstik

Seno Gumira Ajidarma

Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.
Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota. Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya, mengembara.
Maka, aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu.  Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi supir mikrolet. Pernah menjadi portir, tukang sobek karcis bioskop. Bahkan, menjadi penjaga keamanan sebuah gedung.
Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya, aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih.  Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalu lintas misalnya, yang sibuk meniup peluit dibawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar.
Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi supir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi, aku tak pernah berterus terang.  Aku tahu, hampir semua supir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup.
Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter kemana-mana. Kalau film sudah main dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap.  Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap diantara bangku-bangku yang kosong. Tapi, rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersikap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatanya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong dimana kami saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan.
Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta.
Ia penyanyi baru di bar apocalypse ini. Ia datang dari monte carlo, bar sebelah.  Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Bos untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin ia akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya yang bagus. Atau caranya membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang mebuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyianya, sampai bertahun-tahun kemudian.
The falling leaves
drift by the window[1]
Aku tergetar  dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi, aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meskipun aku tak pernah berbicara kepadanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meskipun kami sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjannya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akn merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas.
Aku mencintainya dengan diam-diam, meskipun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku merasa harus tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya.
Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jatuh dari kebisingan band yang mengentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Tampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun digelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun, puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas.

———————-
[1] Lagu The Autumn Leaves menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Nat King Cole. Gubahan Joseph Kosma itu liriknya tertulis dalam dua versi, yang bahasa inggris oleh Johnny Mercer, dan yang bahasa perancis oleh Jacques Prevert. Catatan produksi: Enoch Et Cie / Horley Music Co. USA/ASCAP
Syair lengkap:
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon Ill hear old winters song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

Senja dan Sajak Cinta

Seno Gumira Ajidarma

Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.
Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?
Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.
Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.
Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.
Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.
langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Senja di Kaca Spion

Seno Gumira Ajidarma

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa
di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan.
Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika
memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang
kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski
apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya
bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera
perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca
spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan
secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa
kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat
tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di
hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu
beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak
keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti
akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat
meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama,
mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah
yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung
mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang
mengalami bencana tak tertahankan.

Di jalan tol, aku tak bisa berbalik bahkan tak juga bisa menoleh ke
belakang. Aku hanya bisa melaju terus menerus melaju dan memang hanya
melaju selaju-lajunya kelajuan dalam kecepatan yang terlaju ketika di
hadapanku awan hitam yang bergulung-gulung itu bagaikan merendah dan
bersiap menerkam meski dalam kenyataannya memang hanya di
sana saja
awan hitam itu bergulung-gulung dan terus bergulung-gulung sungguh
begitu matang untuk setiap saat menggulung.
Itulah yang membuat aku meluncur dengan perasaan rawan. Aku melaju di
jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang
dengan pasti merupakan kegelapan sementara di kaca spion kusaksikan
tiga senja dengan tiga matahari terbenam di ujung jalan tol di balik
pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit
seantero bumi memantik kesenduan memantik keharuan yang menenggelamkan
perasaan dalam kedukaan yang mau tak mau harus ditahan.
Belum tentu sekali lagi dalam seumur hidupku aku akan mendapatkan tiga
senja sekaligus melalui kaca spion di tengah, kiri, dan kanan dalam
mobilku yang meluncur dan melaju meninggalkannya dengan tiga matahari
yang bagaikan lempengan besi merah membara membenam perlahan-lahan
tapi pasti meski tetap perlahan tapi meski tetap sepasti sepelan
perputaran bumi. Tiga senja dengan tiga matahari membenam
menyemburatkan langit di tiga kaca spion, hanya dari kaca spion
mobilku dan hanya dengan meninggalkannya ke depan, terus menerus
melaju ke depan, maka aku akan bisa melihat ketiga senja dengan ketiga
matahari itu.
Meluncur di jalan tol tanpa ujung, aku bahkan tidak memiliki
kemungkinan untuk kembali, sepanjang hari sepanjang zaman aku menembus
ruang dalam waktu yang berkelebatan. Di manakah ujung jalan tol ini?
Aku tak tahu menahu dan sungguh tiada tahu menahu hanya bisa meluncur
dan menuju untuk terus menerus menuju dan melaju ke depan tanpa
halangan. Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Aku tak
tahu dan tak akan pernah tahu karena aku hanya bisa meluncur di jalan
tol yang panjang tanpa ujung tanpa pernah tahu akan berakhir entah
kapan dan di mana.
*
Pada tiga kaca spion tiga matahari terbenam perlahan di balik
pegunungan. Pada punggung pegunungan itu orang-orang berjalan sebagai
sosok-sosok kehitaman dengan kepala menunduk melangkah perlahan-lahan.
Sepuluh orang, duapuluh orang, mungkin limapuluh orang, berjalan
menuruti langkah kaki dengan kepala tertunduk mengikuti jalan setapak
dalam perjalanan panjang entah dari mana menuju entah ke mana dalam
kekelaman senja di atas pegunungan. Apabila mereka kemudian berjalan
beriringan di punggung pegunungan naik turun dataran dengan latar
belakang lempengan matahari merah membara maka tampaklah sosok-sosok
yang berjalan dengan kepala tertunduk itu melintas dalam perjalanannya
bagai melintasi dunia. Pada kaca spion aku tak akan pernah tahu
sosok-sosok hitam yang melangkah perlahan dengan kepala itu datang
dari mana dan menuju entah ke mana. Siapalah yang akan tahu?
Segalanya terlihat di kaca spion, tetapi hidup tidak bisa dibalik,
sosok-sosok melangkah, aku meluncur, matahari terbenam, cahayanya yang
keemasan semburat membakar langit, menyala berkobar-kobar dengan lidah
api yang menjilati angkasa. Segalanya memesona di kaca spion dan
segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya
dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dunia serasa
begitu tenang dalam kecepatan terbangnya malaikat yang hening. Aku
meluncur ke depan, tetapi mataku menyaksikan senja pada tiga kaca spion…
Aku masih meluncur awan masih bergulung tetapi langit telah semakin
gelap ketika tiga senja di tiga kaca spion itu tampak semakin
kemerah-merahan. Aku masih menyaksikan ketiganya sekaligus ketika tiga
matahari merah membara masih terbenam perlahan-lahan, ketika
kuperhatikan ternyata pada spion sebelah kanan orang-orang yang
berjalan tertunduk sebagai sosok-sosok hitam itu telah menghilang…
Pergi ke manakah mereka?
Ternyata beberapa orang yang berjalan paling belakang masih tampak
berjalan dengan kepala tertunduk pada pemandangan senja di kaca spion
yang tengah, yang ketika menghilang kemudian tampak pada kaca spion
yang kiri!
Pada kaca spion yang kiri kemudian kusaksikan rombongan sosok-sosok
hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk di atas pegunungan yang
juga menghitam dalam latar belakang lempengan matahari raksasa yang
merah membara dan sedang turun perlahan-lahan. Mereka berjalan dengan
pelan, tetapi pasti, dan satu persatu menghilang keluar dari kaca spion.
Apakah mereka sebenarnya masih di
sana? Sayangnya aku tidak bisa
menoleh ke belakang. Aku meluncur dengan kecepatan yang tak terukur
lagi, sebaiknya tentu aku tidak menoleh sama sekali ke belakang, meski
kecepatan yang tak terukur itu telah memberikan keheningan yang begitu
heningnya sampai terdengar berdenting.
Namun dengan menatap ke depan, kedua mataku masih mampu meliputi
ketiga kaca spion sekaligus, tempat aku telah melihat ketiga matahari
senja sedang turun perlahan-lahan. Tiga matahari senja bagaikan tiga
lempengan raksasa yang merah membara turun perlahan-lahan ke balik
pegunungan yang punggungnya tampak naik turun panjang pendek curam
landai dalam latar langit yang kemerah-merahan.
Ternyata bahwa matahari pada kaca spion yang kanan telah lebih dulu
tenggelam, meninggalkan cahaya keemas-emasan di langit, cahaya yang
akan disebut-sebut penyair
gaya lama sebagai cahaya kencana.
Pada kaca spion yang tengah matahari masih terbenam separuh. Lempengan
raksasa itu bergeletar mendesak bumi yang bagaikan menolaknya. Langit
di atasnya merah membara penuh dengan pesona. Juga penyair
gaya lama
tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya
kencana.
Sementara itu, pada kaca spion sebelah kiri, mataharinya tenggelam
lebih cepat, karena sudah tinggal sepertiganya saja dan seperti
kusaksikan memang kemudian hilang terbenam meninggalkan cahaya
keemas-emasan yang juga akan disebut penyair
gaya lama sebagai cahaya
kencana.
Tapi aku suka
gaya lama. Apa salahnya?
Aku masih meluncur di jalan tol tanpa ujung dengan kecepatan tak
terukur. Pada kaca spion di dalam mobil, kusaksikan senja, dengan
matahari merah membara yang sedang terbenam perlahan-lahan, yang
cahayanya semburat menyapu langit menjadi keemas-emasan-memang tiada
pilihan lain bagi seorang penyair
gaya lama, selain menyebut cahaya
yang semburat di langit itu sebagai cahaya kencana…
Pondok Aren,
Kamis 8 Maret 2007. 18:25

Transformasi Seno Gumira

Oleh: Maria Hartiningsih
Begitu lama ia merasa berada dalam keterbatasan yang membuatnya berpikir bahwa pemahaman ”yang benar” itu ada. Keterbatasan semacam itu membuat Seno Gumira Adji Darma (47) menabrak-nabrak dan menghayati pengalaman orang buta yang merayap dalam kegelapan. Padahal, ketika matanya terbuka, ternyata dunia memang gelap.
Jalan ilmu pengetahuan terstruktur membukakan kesadaran bahwa realitas ”yang benar” adalah konvensi, kesepakatan; bahwa yang bernama ”realitas” sebenarnya merupakan konstruksi sosial-historis.
”Segala sesuatu diciptakan karena ada kebutuhan. Teori juga begitu. Mereka lahir dari yang sudah ada. Postmodernisme lahir karena modernisme, dekonstruksi karena konstruksi, poststrukturalisme karena strukturalisme,” ujarnya.
Seno tenggelam di dalam samudra ketakterbatasan ilmu pengetahuan ketika meneliti komik Panji Tengkorak untuk disertasi S-3-nya di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ia tak lagi terpaku hanya pada filsafat komik, sesuatu yang hinggap di benaknya setelah menyelesaikan S-2-nya di jurusan filsafat UI.
Ia menyelesaikan S-3-nya dalam delapan semester diselingi proses kreatifnya melahirkan tiga novel—salah satu novelnya, Negeri Senja, mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004—dua naskah drama, skenario, dan puluhan cerita pendek, kolom, esai yang dimuat di berbagai media. Ia masih bisa melakukan kegiatan yang ia gemari: memotret, bahkan sempat pameran karena ada teman yang memintanya.
Oleh sebab itu, ia tak mempersoalkan predikat kelulusan ”sangat memuaskan”, karena melewati standar waktu, meski nilainya cumlaude. ”Lagi pula aku sudah menerima diriku sebagai mediocre saja. Dari kecil aku tak pernah terobsesi jadi nomor satu.”
Waktu SD, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Boston, Amerika Serikat, itu selalu duduk di baris tengah agak depan. ”Yang pintar duduk di belakang, yang kurang bisa menangkap pelajaran duduk di depan,” kenangnya.
Itu membuatnya tidak pernah merasa hebat. Sebaliknya, selalu merasa kurang. ”Konsekuensinya mahal, karena aku harus belajar keras.”
Tuntas pada usia 20
Seno mulai menulis di SMA, tahun 1974. ”Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca,” lanjutnya. Ia hidup dari menulis, meski tak bercita-cita menjadi penulis. ”Aku hanya terobsesi menguasai tulisan,” katanya.
Dulu ia ingin jadi seniman ”biasa” yang bisa merasa bahagia dengan apa adanya. Ia merasa sudah mencapainya pada usia 17 tahun ketika mengikuti rombongan Teater Alam. Pada usia 19 tahun ia sudah bekerja di koran sehingga berani menikahi Ike. Pada usia 20 tahun, Timur Angin—fotografer, lulusan Institut Kesenian Jakarta, tempat ayahnya menyelesaikan S-1-nya di bidang film—lahir.
”Upacara dalam hidup sudah kutuntaskan pada usia 20 tahun. Aku tak punya target lagi setelah itu,” tambahnya. ”Semua kujalani dengan ringan.”
Ia terus membaca, menulis, melanjutkan kerja jurnalistiknya. ”Jadi tukang,” katanya.
Tukang?
”Ya,” sergahnya. ”Bukan robot. Untuk jadi tukang keterampilan saja tak cukup. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal.”
Keangkuhan para intelektuallah yang membuat derajat tukang direndahkan. Padahal, menurut Seno, di dalam ”pertukangan”, ada perfection. Di dalam kesempurnaan ada penghayatan, ada pengetahuan yang mendukungnya.
Juga dalam menulis. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, harus masuk ke proses seorang ilmuwan di mana subjektivitas sangat berperan. Itulah faktor personal. ”Aku meneliti Panji Tengkorak juga karena faktor itu. Panji Tengkorak lahir tahun 1968, aku lahir tahun 1958,” katanya.
Tradisi keilmuwan ada di dalam keluarganya. Ayahnya, Mohammad Seti-Adji Sastroamidjojo (alm), adalah PhD di bidang fisika, dikenal sebagai ahli energi alternatif dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ibunya, Poestika Kusuma Sujana (alm), adalah dokter spesialis penyakit dalam.
Jadi mungkin jeda sebelum ia memutuskan kembali ke bangku kuliah hanyalah ancang-ancang melanjutkan perjalanannya menuju horizon tak berbatas, seperti dalam impian masa kecilnya ketika membaca Karl May.
”Foucault menghasilkan karya-karya luar biasa setelah menulis disertasinya yang menjadi buku Madness of Civilization,” ujarnya, seperti meminta lawan bicaranya paham maksudnya.
Seno menerabas tantangan demi tantangan. Dan bertransformasi. Ia belajar mengepakkan sayap dari kegetiran dan keangkuhan kekuasaan. Sekarang ia sudah terbang. Jauh….
Sumber: Kompas, 19 Agustus 2005
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/19/Sosok/197999.htm