Karena jiwa adalah terminal rasa yang menggetarkan, lewat desiran yang samar,dan membawa kita ke waktu-waktu..... Akupun akan membawamu di kemudian rasa
Minggu, 18 Oktober 2009
Minggu, 09 Agustus 2009
Rabu, 15 Juli 2009
Lelaki kurus
Cerpen:kafiyatun hasya
Lelaki bertubuh kurus duduk sendiri lagi,pada senja yang jatuh ditanah. Duduk menatap laut lepas, matanya memancarkan sinar sendu, sedang mulutnya mengeluarkan senar-senar senandung rindu. Rindu yang menggerimmis dalam hati, menggumpal menjadi batu pikiran. Disetiap helai rambutnya mengantung bulan purnama pada malam-malam yang telah punah. Yang ia harapkan, menuai rindu pada gadis jelita, yang sudah lama menggores lurik rasa cinta dihatinya.
Ketika malam, matanya tetap tajam menjaga arus gelombang laut, agar tetap bergerak seirama seperti sedia kala, yang telah membuatya meleleh. Hutanpun yang berimbun dengan pohon-pohon besar bak raksasa yang jahat, dengan segenap kekuatan siap menerkam korbannya. Tetapi, bagi lelaki kurus, gadis jelita bukan pohon yang menyerupai raksasa jahat, namun peri lembut yang penuh rasa kasih sayang.
“aku ingin memelukmu erat” lelaki kurus menangkap suara gadis jelita yang ia temui pada setetes mimpi. Bibirnya merah, seperti bidadari, suit…suit..! Ah, mata lelaki selalu dalam menjelajah tubuh wanita.
Lelaki kurus tetap tak bergerak, tubuhnya bergetar, angin telah membawa dingin. Rambut lelaki kurus bergerak-gerak, matanaya tak beranjak dari tubuh gadis jelita.
“kau boleh anggap aku pelacur, tapi ketahuilah aku hanya melacur pada selengkanganmu”. Ucap gadis jelita dalam pelukan lelaki kurus setelah selesai bercinta.
* * *
“Aku benci malam!” menjelang malam lelaki kurus mengumpat dalam hatinya. Malam telah menutup kisahnya, mengabarkan kabar paling laknat. Malam telah menghianati sore, dan malam telah menipu. Senja dating hanya beberapa waktu, itupun tak lama. Sehingga lelaki kurus tak sempat menyentuh gadis jelita. Padah keinginan, ingin lagi mengulum lembut bibir bibir merahnya yang indah itu, dengan ciuman yang paling nikmat dan menggelora.
“aku tak peduli, kau hantu, jin atau lelembut. Kau selalu menganggu otakku berfikir keberadaanmu. Menghabiskan siang sampai malamku denagn dengkuran yang sempurna. Dan bila senaj hamper tiba, dengan spontan mataku akan terbuka” lelaki kurus menutup mukanaya dengan kedua tangan. Lalu membukanaya. Tetap saja. Keparat masih siang bolong!
* * *
bulan ini adalah musim hujan dimana orang-orang menyelenggarakan pernikahan. Memberi nafas cinta yang ranum, untuk disematkan dijantung jiwa. Cinta tumbuh dimana-mana, dengan wajah dan suara-suara. Dan dibangku taman kota, lihatlah sepasang makhluk yang memadu kasih, demi harap yang berkejaran denagn waktu. Tak mesti kisah cinta mulus pasti melewati kegelapan yang sangat pekat. Seperti malam yang dibenciku.
Diantara gadis yang dekat denganku. Gadis jelita sangat mengerti maksudku. Pada senja yang selalu aku nanti, dengan kecemasan yang sudah sampai ke ubun-ubunku, aku tetap menunggu gadis jelita. Akhirnya dia datang juga, membawa sebatang rokok kesukaanku, yang sudah disulut api.
“kau rindu aku ya, sudah tak sabar aku layani bukan?!” gadis jelita berjalan anggun. Melewati melewati ribuan bahkan miliaran juta pasir.”ini untukmu” seperti biasa aku akan langsung menghisap rokok bawaannya. Rasanya beda. Tak seperti tembakau biasanya.
“bolehkah aku meminta sesuatau padamu?” Tanya lelaki kurus ketika rokoknya telah habis
“untuk bergemul lagi?”
“tidak”
“lalu?”
“tinggallah denganku, aku selalu butuh kau disampingku”
“menjadi istrimu?”
“tentu”
“nanti akan aku fikirkan”
suasana laut yang sepi, berubah menjadi riuh. Karna ikan dilaut tengah bersorak-sorak atas cinta sejoli ini. Ikan dengan ikhlas mendo’akan. Agar mereka bersama terus. Tidak hanya pada waktu senja yang sebentar, tapi pada malam, pagi, siang. Pada senja mereka jadi bersama.
Hingga impian mereka jadi kenyataan. Melirkan anak yang lucu dan ceria. Yang mereka ninibobokan saat malam menghitam. Tapi tidak saat senja berkunjung. Karma saat itulah benang-benang legenda akan terbias kembali, agar anak tahu, bahwa pada senja yang menguning telah mati kebencian , telah punah amarah murka. Namun pad asaat itu bulir-bulir pada kasih abadi mulai terajut. Lewat do’a-do’a peziarah laut yang bersetubuh dengan do’a gadis jelita dan lelaki kurus, membeku dikejauhan langit, yang kemudian membiru abadi disana. Sampai kiamat.
* * *
mataku tak mampu berbohong, aku menikmati setiap permainanmu disenja ini. Aku tak peduli tubuhku penuh dengan pasir, begitupun tubuhmu.ini adalah percintaan terindah dan terlama dalam hidupku, keringat menghujan ditubuhku dan tubuhmu. Dengan lembut aku belai rambutmu, aku cubit pipimu yang merona seperti tomat. Ukh, sangat menggemaskan. Setiap kali kita bercinta kau tak pernah berucap satu katapun, selain desahan nafas yang melepuh lantaran asmara.
“bagaimana dengan tawaranku?”
“aku tak bisa menjadi istrimu, kalau hanay melayanimu disetiap senja aku usahakan”
“aku ingin kau selalu disampingku” ucapku lebih tegas
“aku hanya akan ada saat senja, aku hanya akan menghampirimu, aku hanya akan datang saat malam menjelang, aku hanya datang sebentar, aku hanya akan menemanimu disenja. Tidak pada waktu-waktu yang lain”suara gadis jelita melemah
“kau terikat apa dengan senja? Apakah dia membayarmu mahal? Kau tak perlu uang bukan. Bajumu itu-itu saja. Aku tak peduli kau bersolek atau tampil gembel didepanku” lelaki kurus memegang kedua bahu gadis jelita dengan kuat, berharap gadis jelita merubah fikirannya.
“aku akan membuat bibirmu tersenyum merekah, aku berjanji jlita”
“aku tidak bisa”
bangsat! Gadis jelita menagis. Aku benci dengan kesedihan aku ingin menutup muara air mata gadis jelitaku, agar dia tak menghabiskan air matanya untuk hari ini.
“peluklah aku” aku memeluk tubuh gadis jelita. Dingin. Semua berakhir disenja yang dingin. Dan menutup mataku yang dingin karna air mata gadis jelita.
Paiton, 30 april 2009
Lelaki bertubuh kurus duduk sendiri lagi,pada senja yang jatuh ditanah. Duduk menatap laut lepas, matanya memancarkan sinar sendu, sedang mulutnya mengeluarkan senar-senar senandung rindu. Rindu yang menggerimmis dalam hati, menggumpal menjadi batu pikiran. Disetiap helai rambutnya mengantung bulan purnama pada malam-malam yang telah punah. Yang ia harapkan, menuai rindu pada gadis jelita, yang sudah lama menggores lurik rasa cinta dihatinya.
Ketika malam, matanya tetap tajam menjaga arus gelombang laut, agar tetap bergerak seirama seperti sedia kala, yang telah membuatya meleleh. Hutanpun yang berimbun dengan pohon-pohon besar bak raksasa yang jahat, dengan segenap kekuatan siap menerkam korbannya. Tetapi, bagi lelaki kurus, gadis jelita bukan pohon yang menyerupai raksasa jahat, namun peri lembut yang penuh rasa kasih sayang.
“aku ingin memelukmu erat” lelaki kurus menangkap suara gadis jelita yang ia temui pada setetes mimpi. Bibirnya merah, seperti bidadari, suit…suit..! Ah, mata lelaki selalu dalam menjelajah tubuh wanita.
Lelaki kurus tetap tak bergerak, tubuhnya bergetar, angin telah membawa dingin. Rambut lelaki kurus bergerak-gerak, matanaya tak beranjak dari tubuh gadis jelita.
“kau boleh anggap aku pelacur, tapi ketahuilah aku hanya melacur pada selengkanganmu”. Ucap gadis jelita dalam pelukan lelaki kurus setelah selesai bercinta.
* * *
“Aku benci malam!” menjelang malam lelaki kurus mengumpat dalam hatinya. Malam telah menutup kisahnya, mengabarkan kabar paling laknat. Malam telah menghianati sore, dan malam telah menipu. Senja dating hanya beberapa waktu, itupun tak lama. Sehingga lelaki kurus tak sempat menyentuh gadis jelita. Padah keinginan, ingin lagi mengulum lembut bibir bibir merahnya yang indah itu, dengan ciuman yang paling nikmat dan menggelora.
“aku tak peduli, kau hantu, jin atau lelembut. Kau selalu menganggu otakku berfikir keberadaanmu. Menghabiskan siang sampai malamku denagn dengkuran yang sempurna. Dan bila senaj hamper tiba, dengan spontan mataku akan terbuka” lelaki kurus menutup mukanaya dengan kedua tangan. Lalu membukanaya. Tetap saja. Keparat masih siang bolong!
* * *
bulan ini adalah musim hujan dimana orang-orang menyelenggarakan pernikahan. Memberi nafas cinta yang ranum, untuk disematkan dijantung jiwa. Cinta tumbuh dimana-mana, dengan wajah dan suara-suara. Dan dibangku taman kota, lihatlah sepasang makhluk yang memadu kasih, demi harap yang berkejaran denagn waktu. Tak mesti kisah cinta mulus pasti melewati kegelapan yang sangat pekat. Seperti malam yang dibenciku.
Diantara gadis yang dekat denganku. Gadis jelita sangat mengerti maksudku. Pada senja yang selalu aku nanti, dengan kecemasan yang sudah sampai ke ubun-ubunku, aku tetap menunggu gadis jelita. Akhirnya dia datang juga, membawa sebatang rokok kesukaanku, yang sudah disulut api.
“kau rindu aku ya, sudah tak sabar aku layani bukan?!” gadis jelita berjalan anggun. Melewati melewati ribuan bahkan miliaran juta pasir.”ini untukmu” seperti biasa aku akan langsung menghisap rokok bawaannya. Rasanya beda. Tak seperti tembakau biasanya.
“bolehkah aku meminta sesuatau padamu?” Tanya lelaki kurus ketika rokoknya telah habis
“untuk bergemul lagi?”
“tidak”
“lalu?”
“tinggallah denganku, aku selalu butuh kau disampingku”
“menjadi istrimu?”
“tentu”
“nanti akan aku fikirkan”
suasana laut yang sepi, berubah menjadi riuh. Karna ikan dilaut tengah bersorak-sorak atas cinta sejoli ini. Ikan dengan ikhlas mendo’akan. Agar mereka bersama terus. Tidak hanya pada waktu senja yang sebentar, tapi pada malam, pagi, siang. Pada senja mereka jadi bersama.
Hingga impian mereka jadi kenyataan. Melirkan anak yang lucu dan ceria. Yang mereka ninibobokan saat malam menghitam. Tapi tidak saat senja berkunjung. Karma saat itulah benang-benang legenda akan terbias kembali, agar anak tahu, bahwa pada senja yang menguning telah mati kebencian , telah punah amarah murka. Namun pad asaat itu bulir-bulir pada kasih abadi mulai terajut. Lewat do’a-do’a peziarah laut yang bersetubuh dengan do’a gadis jelita dan lelaki kurus, membeku dikejauhan langit, yang kemudian membiru abadi disana. Sampai kiamat.
* * *
mataku tak mampu berbohong, aku menikmati setiap permainanmu disenja ini. Aku tak peduli tubuhku penuh dengan pasir, begitupun tubuhmu.ini adalah percintaan terindah dan terlama dalam hidupku, keringat menghujan ditubuhku dan tubuhmu. Dengan lembut aku belai rambutmu, aku cubit pipimu yang merona seperti tomat. Ukh, sangat menggemaskan. Setiap kali kita bercinta kau tak pernah berucap satu katapun, selain desahan nafas yang melepuh lantaran asmara.
“bagaimana dengan tawaranku?”
“aku tak bisa menjadi istrimu, kalau hanay melayanimu disetiap senja aku usahakan”
“aku ingin kau selalu disampingku” ucapku lebih tegas
“aku hanya akan ada saat senja, aku hanya akan menghampirimu, aku hanya akan datang saat malam menjelang, aku hanya datang sebentar, aku hanya akan menemanimu disenja. Tidak pada waktu-waktu yang lain”suara gadis jelita melemah
“kau terikat apa dengan senja? Apakah dia membayarmu mahal? Kau tak perlu uang bukan. Bajumu itu-itu saja. Aku tak peduli kau bersolek atau tampil gembel didepanku” lelaki kurus memegang kedua bahu gadis jelita dengan kuat, berharap gadis jelita merubah fikirannya.
“aku akan membuat bibirmu tersenyum merekah, aku berjanji jlita”
“aku tidak bisa”
bangsat! Gadis jelita menagis. Aku benci dengan kesedihan aku ingin menutup muara air mata gadis jelitaku, agar dia tak menghabiskan air matanya untuk hari ini.
“peluklah aku” aku memeluk tubuh gadis jelita. Dingin. Semua berakhir disenja yang dingin. Dan menutup mataku yang dingin karna air mata gadis jelita.
Paiton, 30 april 2009
Selasa, 30 Juni 2009
Pematang waktu
Di pematang masa depan
Aku akan menanam padi benihmu
Yang menguning kala waktu bertuah
Dan ranum membekas
Aku siapkan segalanya untuk panen
Agar kicau burung masih terngiang
Dan anak-anak desa riuh dengan kerbau mereka
Aku pematangmu!
Menggores derita yang tersimpan
Di kantong bajumu yang batik
Dan tak kan lusuh dengan waktu panen
Sampai aku seperti burung pipit
Burung pipit yang selalu berkicau
Pada mimpi-mimpi kosongmu
Hingga kemarau jengah
Takut tidur dipelukanmu
Aku akan menanam padi benihmu
Yang menguning kala waktu bertuah
Dan ranum membekas
Aku siapkan segalanya untuk panen
Agar kicau burung masih terngiang
Dan anak-anak desa riuh dengan kerbau mereka
Aku pematangmu!
Menggores derita yang tersimpan
Di kantong bajumu yang batik
Dan tak kan lusuh dengan waktu panen
Sampai aku seperti burung pipit
Burung pipit yang selalu berkicau
Pada mimpi-mimpi kosongmu
Hingga kemarau jengah
Takut tidur dipelukanmu
Selasa, 16 Juni 2009
Untukmu Mas

Kau dan aku bisa melihatnya mas.....
Lihatlah mas, anakmu tersenyum menyapamu. Dia lelah seharian menunggu Ayahnya pulang kerja. Ketika beranjak tidur, dia minta diceritakan tentangmu. Katanya suatu hari di depan teman-teman nya dia bercerita tentangmu dia bilang begini “Babaku adalah baba yang sangat sayang…….. sekali kepada anaknya. Ketika ia libul bekelja aku selalu ditemaninya belmain. Telus sehabis shalat beljamaa maglip baba mengajakku mangaji. Kalo mau bobo’ di cup keningku, lalu aku beldo'a 'Allohumma figli wali wali dayya wal ham huma kama lobbayani cogilo..'Ai lop yu baba…... anicah cayang Baba. mmmmuach...!” Lalu ustadzah dan teman-temannya bertepuk tangan untuk dia.Sungguh ia cerdas seperti kau. Bangga kepada ayahnya. Aku tak lupa mengajarinya menyanyi lagu kesukaanmu mas...., kau masih ingat bukan itu adalah lagu kenangan kita.Dan katamu "Kelak dik, suatu saat, jika kita sudah memiliki anak, aku ingin dia hafal lagu ini. Maka aku akan sangat bangga kepada dia". YA ALLAH, Tuhanku Hanya Engkau.. Aku serahkan PadaMU...
*Peliharalah sayangmu untuk keluargamu
Surat Cinta
Aku menemuimu di baris kata-katamu
Dalam surat di malam itu
Setiap huruf yang berderet dikertasmu
Memaksa mataku untuk menyapa mereka
Mengeja huruf dalam lembah dan guanya
Aku tersenyum, namun mataku menangis
Perihal rindu membuncah seketika
Ah,sudah kepalang basah pula
Kepalang cinta aku padamu
Setelah membaca suratmu
Aku lipat dengan hati gamang
Agar sama seperti sedia kala
Rindu yang luka
Ah ah ah, lagi-lagi sepotong wajahmu
Menggantung dipelupukku
Mematahkan pucuk-pucuk cemara
Mengalirkan air sungai dihatiku
*untukmu, semalam di api unggun
Dalam surat di malam itu
Setiap huruf yang berderet dikertasmu
Memaksa mataku untuk menyapa mereka
Mengeja huruf dalam lembah dan guanya
Aku tersenyum, namun mataku menangis
Perihal rindu membuncah seketika
Ah,sudah kepalang basah pula
Kepalang cinta aku padamu
Setelah membaca suratmu
Aku lipat dengan hati gamang
Agar sama seperti sedia kala
Rindu yang luka
Ah ah ah, lagi-lagi sepotong wajahmu
Menggantung dipelupukku
Mematahkan pucuk-pucuk cemara
Mengalirkan air sungai dihatiku
*untukmu, semalam di api unggun
Langganan:
Postingan (Atom)
